Pride atau harga diri seringkali menjadi hal yang kebanyakan orang pertahankan dalam hubungannya dengan orang lain. Seringkali kita menjadi “sombong”, karanea kita sedang membela harga diri kita.

Yang ingin saya sampaikan dalam blog kali ini mungkin bukan harga diri seperti yang kita bahas di atas, tetapi lebih kepada nilai diri kita (value). Untuk lebih memberikan pemahaman tentang ini, saya akan menyampaikan sepotong cerita singkat.

Pada saat itu di daratan Cina ada seorang pendekar kungfu yang hebat. Dia adalah salah satu anggota perkumpulan kungfu yang masih yunior, namun dia memiliki kemampuan kungfu yang sedikit di bawah kemampuan ketua perkumpulan tersebut. Pada suatu kali, sang ketua menugaskan dia untuk menjalankan sebuah misi, bersama dengan beberapa orang anggota. Saat sedang beristirahat di sebuah kedai, dia melihat seorang peramal yang tampak sederhana, dan peramal tersebut tidak juga berusaha menarik perhatian pelanggan dengan teriakan-teriakan tertentu. Peramal itu hanya membawa sebuah spanduk yang cukup besar yang bertuliskan “Peramal nasib, harga meramal untuk pertama kali 5 sen dan untuk selanjutnya 100 sen”. Melihat spanduk itu, sang pendekar bingung. Mengapa harga ramalan bisa berbeda begitu jauh, padahal bahan dan kemampuan peramal itu juga tidak berbeda banyak untuk ramalan pertama dan kedua dan seterusnya. Didorong rasa penasaran, sang pendekar mendekati peramal dan bertanya mengapa harga bisa ditentukan seperti yang tertera pada spanduk itu. Sang peramal pun tersenyum memandang sang pendekar dan berkata, “yah, memang itu yang saya maksudkan. Pada saat pertama anda meminta jasa ramalan saya, saya beri harga sangat murah karena anda belum tahu bagaimana hasil dan kualitas ramalan saya. Setelah merasakan manfaat dari ramalan saya untuk anda yang pertama, anda akan mengetahui betapa berharganya ramalan saya, sehingga anda akan mencari saya untuk diramal kembali. Pada saat itulah saya akan menarik anda dengan harga yang pantas untuk kualitas ramalan saya.”

Dengan cerita singkat ini saya seringkali merenungkan bahwa kata-kata peramal itu sangat berbobot. Seringkali yang kebanyakan orang lakukan termasuk saya adalah menarik tinggi untuk hasil kerjanya mulai dari yang pertama kali dilakukan dengan harapan mumpung masih ada yang mau membayar tinggi hasil kerjanya, dan kemudian melupakan kualitas dari kerjanya tersebut.

Bagaimana pendapat anda?

The Hospital

Mei 29, 2008

Melihat Judul yang terpampang, saya ingin tahu apa yang muncul di dalam benak pembaca sekalian. Maksud kami menulis blog dengan judul “The Hospital” adalah ingin menuliskan beberapa hal yang penulis catat sehubungan dengan film serial mandarin dengan judul tersebut yang dibintangi oleh salah satu personel F4 yaitu Jerry Yan. Salah satu yang membanggakan adalah dalam film tersebut dibintangi juga oleh aktris muda kita Agnes Monica, sekalipun itu hanya peran pembantu.

Selain itu beberapa nilai penting yang dimuat dalam film itu membuat saya ingin menuangkan buah pikiran saya ke dalam blog ini.

Cerita dalam film “The Hospital” ini menggambarkan kehidupan seorang ahli bedah junior yang bernama Su Yi Hua di dalam suatu rumah sakit tipe A di mana semua sarana dan pra sarana kesehatan sudah lengkap. Su Yi Hua adalah seorang dokter yang baik, menurut saya, karena dalam profesinya dia sudah mengangkat sumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia akan bekerja sekuat tenaga sebagai seorang dokter bedah demi kesehatan para pasiennya. Dalam perjalanan pekerjaannya dia menghadapi polemik yang berat saat dia diminta tolong membantu senior dari bagian penyakit dalam untuk mengoperasi pasiennya, sedangkan senior tersebut tidak lebih dulu menghubungi kepala bagian bedah untuk hal tersebut. Kebetulan pasien tersebut adalah putri presiden yang sedang menjabat. Mungkin juga disebabkan karena di antara kedua senior yang berbeda bagian tersebut sedang ada permasalahan intern sehubungan dengan keduanya merupakan kandidat untuk menjadi kepala rumah sakit yang baru, sehungga mereka bersaing dan berusaha untuk saling menjatuhkan.

Ketika kepala dokter bagian bedah mengetahui bahwa Su Yi Hua yang diminta tolong, bukannya dia, maka meledaklah amarahnya. Dengan kekuasaannya sebagai kepala bagian, dia memerintahkan wakilnya untuk mengambil alih pasien tersebut atas nama dia, karena dia menganggap senior dari bagian penyakit dalam tidak menghargai otoritasnya sebagai kepala bagian bedah, tanpa terlebih ahulu memberi informasi kepada Su Yi Hua yang notebene adalah yang dipercaya bahkan oleh presiden sendiri untuk membantu menangani penyakit putrinya. Akibatnya dia kebingungan saat pasien tersebut dijadwalkan operasi tanpa sepengetahuannya.

Bertolak dari masalah ini, kemudian berkembang hingga akhirnya si pasien yang menjadi korban perseteruan antara senior dari bagian bedah dan senior dari bagian penyakit dalam. Su Yi Hua yang sebenarnya tidak terlibat masalah intern tersebut, akhirnya menjadi sasaran kepala bagian bedah karena dianggap mengkhianati bagian bedah. Dia terus menerus dimusuhi oleh kepala bagian bedah sampai-sampai dia tidak diberi ijin untuk melakukan operasi.

Begitu banyak intrik-intrik yang terjadi seputar kehidupan seorang dokter. Baik dalam permasalahan pribadinya, dengan teman sejawat, pasien, dan politik yang tertuang dalam serial ini. Bagi saya, ternyata tidak mudah seperti yang sering dikatakan oleh orang banyak ‘enak ya kalau kadi dokter, kerjanya ringan, tapi gajinya besar.’ Setelah menonton film serial ini, saya menjadi berpikir, apa mau orang tersebut menjadi seorang dokter jika dihadapkan kondisi seperti yang dialami oleh Su Yi Hua? Kalaupun mau pastilah dia akan menjadi dokter yang tidak lagi mengutamakan pasien karena jika mengutamakan pasien, akan terlibat masalah sama seperti yang dialami Su Yi Hua. Kalau sudah tidak mengutamakan pasien lagi, lalu apa esensi sebenarnya menjadi dokter? Apa untuk gagah-gagahan saja? Seperti yang dilakukan oleh kepala bagian bedah tersebut dalam meraih karir politiknya? Memang orang bisa saja bilang kalau itu kan hanya sekedar film, tetapi bagi saya semua kondisi dalam film tersebut sangat masuk akal dan sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan nyata ini. Dan kalau hal demikian terjadi, lalu bagaimana dengan efek-efek samping dari segala intrik yang terjadi itu yang akan mempengaruhi kehidupan orang banyak?

Tentang Mata
Mata merupakan organ yang sangat penting bagi manusia. Bisa dikatakan mata merupakan jendela bagi manusia, sebab mata memproyeksikan benda-benda di sekelilingnya dan mengubahnya menjadi sensasi visual yang dapat dimengerti oleh otak manusia.
Otak manusia memiliki 2 area khusus untuk sensasi visual, yaitu area yang menerima sensasi visual dari mata dan area yang menterjemahkan sensasi visual tersebut agar dapat dimengerti oleh manusia. Jika salah satu area tersebut mengalami gangguan, maka proses penginderaan visual juga akan terganggu, tidak dapat melihat, atau tidak mengerti apa yang dilihat.

Anatomi Mata
Mata memiliki beberapa bagian di dalamnya yang hampir kesemuanya berfungsi seperti lensa. Dari luar :

  1. Kornea, sebagai pembias cahaya pertama sekaligus barier pertama bagi mata.
  2. Camera Occuli Anterior (COA), berisi cairan yang memberi nutrisi bagi kornea sekaligus sedikit membiaskan cahaya.
  3. Iris, selaput pelangi mata yang berwarna berbeda-beda seperti yang sering kita lihat.
  4. Pupil, lubang di tengah iris sebagai pintu masuk cahaya. Lebarnya pupil diatur oleh iris.
  5. Camera Occuli Posterior (COP), fungsinya sama dengan COA.
  6. Lensa, fungsinya untuk membiaskan cahaya.
  7. Corpus vitreum, berisi cairan yang memberi bentuk bola mata, sekaligus sedikit membiaskan cahaya.
  8. Retina, jalinan saraf mata yang menerima sensasi cahaya dan mengubahnya menjadi sensasi saraf untuk diteruskan ke otak.
  9. Sclera, merupakan kerangka dari mata.
  10. Conjunctiva, merupakan selaput mukosa yang kaya akan pembuluh darah, berfungsi untuk memberi nutrisi kepada bola mata.

Prinsip Kerja Mata
Prinsip kerja dari mata sama dengan prinsip kerja dari kamera konvensional. Kamera tersebut mengadopsi prinsip kerja mata manusia. Anda bisa mereview hal ini di web yang memberikan informasi tentang kamera konvensional.

Gangguan-Gangguan Mata
Ada beberapa gangguan mata yang umum terjadi antara lain :
1. Gangguan visus
2. Gangguan zalir dalam bola mata
3. Inflamasi dan Infeksi
4. Tumor
Di dalam artikel ini kami hanya mengulas tentang gangguan visus.

Gangguan Visus
Gangguan visus adalah gangguan penglihatan yang disebabkan proyeksi cahaya yang tidak tepat jatuh pada retina mata. Gangguan-gangguan yang umum antara lain :

  1. Hipermetrop, kurang jelas melihat benda-benda yang dekat dengan mata akibat lensa kurang bisa mencembung (membuaskan cahaya lebih dekat). Biasanya orang menyebut dengan mata plus.
  2. Miop, kurang jelas melihat benda-benda yang jauh dari mata akibat lensa kurang bisa memipih (membiaskan cahaya lebih jauh). Biasanya orang menyebut dengan mata minus.
  3. Presbiop, atau yang disebut mata tua. Hal ini disebabkan lensa sudah kurang elastis sehingga benda-benda yang sangat jauh atau sangat dekat kurang jelas dilihat.
  4. Cataract, Kurang jelas melihat akibat lensa menjadi keruh, biasanya karena proses penuaan.

Gangguan-gangguan ini dapat dibantu dengan penggunaan kacamata ataupun lensa kontak. Beberapa gangguan penglihatan yang lain merupakan bagian dari penyakit-penyakit mata khusus yang tidak dapat dibantu dengan kacamata ataupun lensa kontak. Khusus untuk cataract, hanya bisa dilakukan operasi. Jika tidak dipasang implant lensa, maka mata akan menjadi minus.

Kacamata dan Lensa Kontak
Kacamata dan lensa kontak merupakan alat bantu lihat untuk gangguan-gangguan visus seperti yang telah dijelaskan di atas.
Adapun kelebihan dan kekurangan masing-masing :

Kacamata
Kelebihannya:
- Murah
- Mudah didapat
- Mudah digunakan
Kekurangannya:
- Mengganggu penampilan (bagi yang tidak biasa)
- Tidak dapat mengoreksi gangguan visus yang perbedaan refraksi antara kedua mata lebih dari 3

Lensa kontak
Kelebihannya:
- Dapat mengoreksi gangguan visus yang perbedaan refraksi antara kedua mata lebih dari 3
- Dapat memberi warna mata sesuai keinginan
- Tidak mengubah penampilan
Kekurangannya:
- Lebih mahal
- Lebih sulit diperoleh
- Lebih sulit cara penggunaan dan cara pemeliharaannya

Popcorn adalah makanan kecil (=snack) yang legendaris di AS. Mungkin seperti kacang goreng bagi kita di Indonesia.

Corn sebenarnya berarti biji-bijian, dan biasanya dipakai untuk bijian yang populair di suatu wilayah.
Dan corn disini dipakai untuk bijian jagung.
Pop sendiri berarti meletup (bolehkah diterjemahkan: popcorn=”jagung letup” ? :) )

Sejarah budaya popcorn sudah dimulai sejak benua Amerika masih dikuasai oleh suku-suku Indian. Dan itu ada tercatat dalam laporan para penjelajah Eropa yang datang ke benua Amerika, beberapa ratus tahun lalu.
Popcorn diduga sudah dikenal sejak lebih dari 5000 (=LIMA RIBU) tahun lalu, ketika para Arkeolog menemukan beberapa biji jagung popcorn yang masih “siap letup” dan yang “sudah meletup”, dan tertimbun debu dalam sebuah gua di New Mexico.
Jagung itu diperkirakan sudah berusia 5600 tahun.

Bijian popcorn adalah sejenis bijian jagung yang berkulit keras, dan tidak enak dimakan bila diolah secara biasa dengan direbus atau dimasak, karena tidak ada rasa manisnya, dan kulitnya terlalu keras.

Variasi warna bijian sangat beragam, dari putih, kuning, jingga, merah, biru, hingga warna hitam
Juga bentuknya sangat bervariasi dan menarik, dan sering digunakan oleh orang Indian sebagai merjan atau hiasan dengan dirangkai.

Popcorn dapat ditemukan tumbuh liar, dan budidaya tanaman popcorn yang besar-besaran di AS dan beberapa negara Amerika Latin saat ini memang disebabkan oleh sifatnya yang satu ini, suka meletup.

Juga ada ditemukan varian jagung letup serupa di Sumatra, India dan Tiongkok.
Di Indonesia barangkali padanan makanan semacam tapi tak serupa adalah yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai “marning“, yaitu biji jagung yang digoreng hingga renyah, tapi tidak meletup.
Selain itu kita juga mengenal “berondong jagung” yaitu biji jagung digoreng yang juga merekah besar waktu dimasak, hanya saja tidak sebesar rekah popcorn Amerika.
Juga ada “belendung“, yaitu biji jagung yang merekah waktu direbus, padahal biji jagung itu belum terlalu tua.

Sifat khas popcorn seperti yang sudah disebut diatas, adalah bila bijian itu dipanaskan, tanpa ataupun dengan sedikit minyak / lemak, sampai suhu tertentu (sekitar 180~200 derajat Celsius) secara merata dan diaduk-aduk, akan meletup dan merekah daging dalamnya.
Sehingga terbentuk benda yang terbelah tidak beraturan, kadang seperti bunga, dan berwarna sangat putih , tidak perduli apa pun warna kulitnya.
Daging popcorn yang sudah diolah adalah empuk-renyah, sehingga sangat disukai oleh semua kalangan umur.

Masyarakat Eropa yang datang ke benua Amerika sangat tertarik, dan kemudian melestarikannya menjadi semacam ‘ makanan snack nasional ‘.

Pada 1980, popcorn dipublikasikan secara meluas di AS sebagai snack yang rendah kalori, bebas gula, dan kaya serat.
Padahal sebelumnya pernah digolongkan sebagai ‘ junk-food ‘ snack yang tidak bermutu gizi baik.
Popcorn yang masak-olah, rasanya adalah tawar/hambar, sehingga perlu dibubuhi bubuk gula, syrup ataupun garam.
Walaupun demikian berbagai kalangan memperingatkan akan bahan tambahan pada popcorn olahan agar tidak berlebih sehingga menurunkan tingkat kualitas popcorn secara keseluruhan.
Dalam perkembangannya, popcorn diolah dengan dibubuhi minyak/lemak butter dan garam. Butter salt popcorn ternyata sangat disukai dan omzet penjualannya meningkat terus dari tahun ke tahun.

Kandungan nutrisi yang tinggi dari popcorn bahkan telah membuat dokter di AS merekomendasikannya sebagai makanan kecil favorit, diatas yang lainnya.

Popcorn sungguh legendaris, tapi sekarang sudah tercemar, oleh diacetyl.

Apa komentar Anda ?

Minal Aidin wal Faizin

Oktober 13, 2007

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Minal Aidin wal Faizin

Sudah pernah dengar kalimat : “Knowledge is Power” alias “Pengetahuan adalah Kekuatan” ?

Sudah lama rasanya kalimat itu tidak pernah saya dengar diucapkan oleh orang. Masih relevan-kah maknanya ?

Bagaimanapun, saya masih ingat di masa yang lalu, ayah saya suka sekali menekankan bahwa pengetahuan itu adalah harta yang tidak akan hilang begitu saja atau dapat dicuri. Jadi kamu boleh percaya punya harta segudang pengetahuan adalah aman dari pencurian maupun perampokan.

Maklumlah sewaktu saya kecil, keluarga saya tidaklah terbilang kaya. Kita cuma pas-pas-an untuk tidak kelaparan.
Baju saja cuma punya 2 @ 3 stel. Baju juga harus dijahit lebih besar/panjang lebih 3 @ 4 cm dari ukuran pas, supaya bisa dipakai minimal 2 tahun.
Beli sepasang sepatu harus bisa dipakai untuk 2 @ 3 tahun. Jadinya, kalau beli sepatu baru harus dilebihkan 2 nomor dari yang pas dipakai, trus diganjal pakai kapuk bagian depannya.
Persis Charlie Chaplin dalam bioskop hitam putih jadul. Asyik juga, ha ha ha.

Jadi, begitulah, karena “pengetahuan” kita tahunya ada di sekolah, ayah saya mengharuskan saya bersekolah. Pakai baju dan sepatu “kebesaran” (yang disengaja). Ha ha ha.

Sewaktu di SMA, saya punya seorang guru yang “antik”, karena pakaiannya yang juga kedodoran kaya’ saya (memang jamannya kali :) ) ). Mengajar Ilmu Ekonomi, dan tidak begitu disimak teman-teman kalau memberi pelajaran.
Pas begitu, dia lalu bercerita, bahwa orang bersekolah itu sebetulnya ‘kan mencari ilmu. Dan yang disebut ilmu adalah penemuan dari orang-orang sebelum kita di dunia ini. Jadi harus dihargai. (Maksudnya, supaya dia juga dihargai !)
Katanya lagi, karena Pengetahuan adalah Kekuatan, Knowledge is Power. Kok pendapatnya sama seperti ayah saya.

Suatu kali saya baca di sebuah majalah, lupa namanya, sebuah kalimat bijak orang Jepang, bunyinya kira-kira begini :
“Kalau kau kaya, kau tidak perlu bekerja karena dapat membayar orang bekerja bagi keperluanmu,
Kalau kau tidak kaya, maka kau haruslah pandai, supaya dapat bekerja menggunakan kepandaianmu memenuhi keperluanmu,
Dan kalau kau tidak kaya dan tidak pandai, maka kau haruslah menggunakan ototmu untuk bekerja bagi keperluanmu.”

Jadi, sampai sekarang saya tetap percaya bahwa Pengetahuan adalah Kekuatan.

Anda percayakah ?

Dunia terus berkembang, manusiapun semakin pandai.
Kehidupan makin berwarna-warni, seringkali indah,
tetapi tak jarang, juga mengerikan.

Hari itu Minggu, beberapa minggu yang lalu. Saya pergi ke suatu mal bersama istri dan anak saya. Kami masuk ke sebuah toko hardware, ingin membeli lampu untuk mengganti yang rusak dirumah kami.
Tidak menemukan lampu yang memenuhi selera, mendadak hidung kami diselusupi uap bau-bauan yang sedap, tapi bukan bau parfum atau wangian lainnya.
Keluar dari toko, istri saya berbelok mengikuti pelacakan pembauannya dan ternyata ada seorang wanita sedang menghadapi sebuah oven microwave, dan dihadapannya ada beberapa kantong seperti amplop yang agak tebal. Penasaran saya ikut menjenguk, dan bertanya. Ternyata itu adalah popcorn microwave, dan yang saya bau tadi adalah popcorn microwave dengan perisa (=flavor, CMIIW) butter. Uap bebauan butter itu sungguh sedap, sangat merangsang selera. :) Beberapa orang menunggu layanan.
Karena masih ada beberapa keperluan lain kami bergegas pergi. Beberapa pembicaraan ringan tentang microwave dan popcorn mengakhiri ingatan akan sensasi bau butter dan popcorn tersebut.

Sekitar 10 hari yang lalu, saya mendapatkan suatu alinea tentang Popcorn di Yahoo! Health.
Iseng saya ikuti linknya, dan saya mendapati suatu berita yang mengejutkan, yaitu tentang laporan seorang dokter AS kepada FDA di Maryland, perihal penemuannya. (FDA=Food and Drug Administration, Badan Pengawas Makanan dan Obat AS)

Bertanggal 18 Juli 2007, laporan itu menjelaskan tentang seorang penderita penyakit paru yang berat. Temuan klinis serupa dengan penyakit paru yang menyerang pekerja pabrik popcorn microwave dan pekerja produksi zat kimia perisa butter.
Tapi penderita ini hanyalah seorang penggemar popcorn microwave dengan perisa butter. Dalam rumahnya, ditemukan beberapa kantong popcorn microwave yang siap masak. Dan kadar uap perisa butter dalam rumah penderita ketika popcorn dimasak, setara dengan yang ada dalam unit pengujian mutu pabrik popcorn bermasalah diatas.
Perisa butter yang dipersoalkan itu adalah diacetyl.

Dan penyakit paru yang menyerang itu disebut dengan Bronchiolitis Obliterans (BO), atau radang pada bronchioli dengan penyumbatan. Bronchiolus adalah saluran percabangan bronchus (=saluran napas yang ada dalam paru-paru) yang berujung pada alveolus (=bagian ujung saluran napas yang berbentuk kantong).
BO adalah penyakit yang amat jarang, dan dinyatakan sangat fatal. Kerusakan berat akibat BO hanya dapat diatasi dengan transplantasi paru.

Berita lain sehubungan dengan itu adalah bahwa, penderita diatas adalah seorang penjual perabot rumah (furniture), dan tak ada hubungannya dengan pabrik kimia ataupun popcorn. Dia sudah seringkali batuk dan sesak napas sebelum “ditemukan” dokter itu. :)

Dia telah dirawat karena penderitaannya itu sejak Februari 2007. Berbagai obat telah diberikan tapi hasilnya tidak memuaskan.
Akhirnya sang dokter dengan sangat hati-hati (dan mungkin sedikit takut-takut) bertanya apakah dia suka makan popcorn berperisa butter, karena gejala yang dialaminya sangat mirip dengan penyakit yang diderita pekerja dipabrik-pabrik diatas.
Jawaban penderita mengejutkan (sekaligus melegakan?): “Well, bagaimana Anda tahu hal itu? Sayalah Mr. Popcorn !………………”

Dia adalah seorang penggemar berat yang makan sedikitnya dua kantong popcorn sehari selama 10 tahun. Dan dia sangat suka sekali dengan aroma perisa butter, akhir-akhir ini. Dia mengatakan bahwa setelah popcorn masak dan kantong dibuka, maka akan terdengar “whoop!”.

Penderita itu adalah penderita pertama yang ditemukan diluar pekerja pabrik-pabrik diatas.

Saya teringat akan kesukaan anak-anak pada bau-bauan yang yang dianggapnya sedap, yang tidak jarang akan dihirupnya dalam-dalam. Tidak jarang karena dianggap sedap, anak-anak akan tidak memperdulikan larangan orang tuanya.
Zat yang tidak “umum”, seperti thinner atau aceton, bensin, minyak tanah, lem kontak pun pernah dilaporkan memiliki penggemar berat bebauannya, dan itu adalah anak-anak.

Yang membuat repot adalah, tidak seperti barang-barang diatas yang memang bukan makanan, diacetyl tidak pernah ditemukan berbahaya apabila ditelan.
Hal ini akan menimbulkan lebih banyak kesulitan dalam melarang anak-anak menghirup bebauannya. (Ini ‘kan makanan ?!)

Popcorn microwave adalah barang import di Indonesia. Untuk saat ini mungkin hanya anak-anak di kota-kota besar yang pernah menikmati bau dan rasanya. Dan untuk sementara waktu, karena harganya yang relatif mahal, sebagian besar orang tua akan menghambat pembelanjaan untuk popcorn microwave itu, dan juga bahaya menghirup uap perisa butternya.

Bahaya mungkin akan hanya menghampiri sebagian kecil anak-anak yang orang tuanya super kaya, dan yang menyediakan apa saja untuk kegemaran anaknya.
Meskipun sedikit yang akan terserang, ini saja sudah tidak kita inginkan.
Akan tetapi suatu saat nanti, apabila nilai uang bergerak membaik dan harga oven microwave menjadi relatif murah, pasti kejadian akan berkembang kearah yang benar-benar tidak pernah kita bayangkan.

Apakah menjadi makmur itu Bahaya ? Apakah yang sedemikian itu masuk akal ? Menurut saya, yang masuk akal adalah: “Jadilah Makmur, Hindarkan Bahaya.”

Punya pengetahuan tidak harus karena pernah mengalaminya.
Menjadi “kelinci percobaan” dengan sia-sia adalah perbuatan g .! .Γ .@ !
Pengalaman orang lain seharusnya sudah cukup.

Bagaimanapun, menjadi sehat tidaklah harus dengan biaya mahal.

Waspada adalah lebih berguna dan jauh lebih murah, untuk diri sendiri, lingkungan maupun masyarakat dan negara.
Jadi kita bisa lebih kaya :)

Waspada juga lebih aman, karena dapat menghidarkan sakit dan efek samping obat apabila penyakit itu berat dan harus minum banyak obat !
Jangan sudah tidak kaya masih penyakitan juga :)

Akankah perisa butter – diacetyl- dikenai ketentuan khusus di Indonesia ?