“Dunia terus berkembang, manusiapun semakin pandai.
Kehidupan makin berwarna-warni, seringkali indah,
tetapi tak jarang, juga mengerikan. “

Hari itu Minggu, beberapa minggu yang lalu. Saya pergi ke suatu mal bersama istri dan anak saya. Kami masuk ke sebuah toko hardware, ingin membeli lampu untuk mengganti yang rusak dirumah kami.
Tidak menemukan lampu yang memenuhi selera, mendadak hidung kami diselusupi uap bau-bauan yang sedap, tapi bukan bau parfum atau wangian lainnya.
Keluar dari toko, istri saya berbelok mengikuti pelacakan pembauannya dan ternyata ada seorang wanita sedang menghadapi sebuah oven microwave, dan dihadapannya ada beberapa kantong seperti amplop yang agak tebal. Penasaran saya ikut menjenguk, dan bertanya. Ternyata itu adalah popcorn microwave, dan yang saya bau tadi adalah popcorn microwave dengan perisa (=flavor, CMIIW) butter. Uap bebauan butter itu sungguh sedap, sangat merangsang selera. :) Beberapa orang menunggu layanan.
Karena masih ada beberapa keperluan lain kami bergegas pergi. Beberapa pembicaraan ringan tentang microwave dan popcorn mengakhiri ingatan akan sensasi bau butter dan popcorn tersebut.

Sekitar 10 hari yang lalu, saya mendapatkan suatu alinea tentang Popcorn di Yahoo! Health.
Iseng saya ikuti linknya, dan saya mendapati suatu berita yang mengejutkan, yaitu tentang laporan seorang dokter AS kepada FDA di Maryland, perihal penemuannya. (FDA=Food and Drug Administration, Badan Pengawas Makanan dan Obat AS)

Bertanggal 18 Juli 2007, laporan itu menjelaskan tentang seorang penderita penyakit paru yang berat. Temuan klinis serupa dengan penyakit paru yang menyerang pekerja pabrik popcorn microwave dan pekerja produksi zat kimia perisa butter.
Tapi penderita ini hanyalah seorang penggemar popcorn microwave dengan perisa butter. Dalam rumahnya, ditemukan beberapa kantong popcorn microwave yang siap masak. Dan kadar uap perisa butter dalam rumah penderita ketika popcorn dimasak, setara dengan yang ada dalam unit pengujian mutu pabrik popcorn bermasalah diatas.
Perisa butter yang dipersoalkan itu adalah diacetyl.

Dan penyakit paru yang menyerang itu disebut dengan Bronchiolitis Obliterans (BO), atau radang pada bronchioli dengan penyumbatan. Bronchiolus adalah saluran percabangan bronchus (=saluran napas yang ada dalam paru-paru) yang berujung pada alveolus (=bagian ujung saluran napas yang berbentuk kantong).
BO adalah penyakit yang amat jarang, dan dinyatakan sangat fatal. Kerusakan berat akibat BO hanya dapat diatasi dengan transplantasi paru.

Berita lain sehubungan dengan itu adalah bahwa, penderita diatas adalah seorang penjual perabot rumah (furniture), dan tak ada hubungannya dengan pabrik kimia ataupun popcorn. Dia sudah seringkali batuk dan sesak napas sebelum “ditemukan” dokter itu. :)

Dia telah dirawat karena penderitaannya itu sejak Februari 2007. Berbagai obat telah diberikan tapi hasilnya tidak memuaskan.
Akhirnya sang dokter dengan sangat hati-hati (dan mungkin sedikit takut-takut) bertanya apakah dia suka makan popcorn berperisa butter, karena gejala yang dialaminya sangat mirip dengan penyakit yang diderita pekerja dipabrik-pabrik diatas.
Jawaban penderita mengejutkan (sekaligus melegakan?): “Well, bagaimana Anda tahu hal itu? Sayalah Mr. Popcorn !………………”

Dia adalah seorang penggemar berat yang makan sedikitnya dua kantong popcorn sehari selama 10 tahun. Dan dia sangat suka sekali dengan aroma perisa butter, akhir-akhir ini. Dia mengatakan bahwa setelah popcorn masak dan kantong dibuka, maka akan terdengar “whoop!”.

Penderita itu adalah penderita pertama yang ditemukan diluar pekerja pabrik-pabrik diatas.

Saya teringat akan kesukaan anak-anak pada bau-bauan yang yang dianggapnya sedap, yang tidak jarang akan dihirupnya dalam-dalam. Tidak jarang karena dianggap sedap, anak-anak akan tidak memperdulikan larangan orang tuanya.
Zat yang tidak “umum”, seperti thinner atau aceton, bensin, minyak tanah, lem kontak pun pernah dilaporkan memiliki penggemar berat bebauannya, dan itu adalah anak-anak.

Yang membuat repot adalah, tidak seperti barang-barang diatas yang memang bukan makanan, diacetyl tidak pernah ditemukan berbahaya apabila ditelan.
Hal ini akan menimbulkan lebih banyak kesulitan dalam melarang anak-anak menghirup bebauannya. (Ini ‘kan makanan ?!)

Popcorn microwave adalah barang import di Indonesia. Untuk saat ini mungkin hanya anak-anak di kota-kota besar yang pernah menikmati bau dan rasanya. Dan untuk sementara waktu, karena harganya yang relatif mahal, sebagian besar orang tua akan menghambat pembelanjaan untuk popcorn microwave itu, dan juga bahaya menghirup uap perisa butternya.

Bahaya mungkin akan hanya menghampiri sebagian kecil anak-anak yang orang tuanya super kaya, dan yang menyediakan apa saja untuk kegemaran anaknya.
Meskipun sedikit yang akan terserang, ini saja sudah tidak kita inginkan.
Akan tetapi suatu saat nanti, apabila nilai uang bergerak membaik dan harga oven microwave menjadi relatif murah, pasti kejadian akan berkembang kearah yang benar-benar tidak pernah kita bayangkan.

Apakah menjadi makmur itu Bahaya ? Apakah yang sedemikian itu masuk akal ? Menurut saya, yang masuk akal adalah: “Jadilah Makmur, Hindarkan Bahaya.”

Punya pengetahuan tidak harus karena pernah mengalaminya.
Menjadi “kelinci percobaan” dengan sia-sia adalah perbuatan g .! .Γ .@ !
Pengalaman orang lain seharusnya sudah cukup.

Bagaimanapun, menjadi sehat tidaklah harus dengan biaya mahal.

Waspada adalah lebih berguna dan jauh lebih murah, untuk diri sendiri, lingkungan maupun masyarakat dan negara.
Jadi kita bisa lebih kaya :)

Waspada juga lebih aman, karena dapat menghidarkan sakit dan efek samping obat apabila penyakit itu berat dan harus minum banyak obat !
Jangan sudah tidak kaya masih penyakitan juga :)

Akankah perisa butter – diacetyl- dikenai ketentuan khusus di Indonesia ?

Tulis sebuah Komentar

*
*