Popcorn adalah makanan kecil (=snack) yang legendaris di AS. Mungkin seperti kacang goreng bagi kita di Indonesia.

Corn sebenarnya berarti biji-bijian, dan biasanya dipakai untuk bijian yang populair di suatu wilayah.
Dan corn disini dipakai untuk bijian jagung.
Pop sendiri berarti meletup (bolehkah diterjemahkan: popcorn=”jagung letup” ? :) )

Sejarah budaya popcorn sudah dimulai sejak benua Amerika masih dikuasai oleh suku-suku Indian. Dan itu ada tercatat dalam laporan para penjelajah Eropa yang datang ke benua Amerika, beberapa ratus tahun lalu.
Popcorn diduga sudah dikenal sejak lebih dari 5000 (=LIMA RIBU) tahun lalu, ketika para Arkeolog menemukan beberapa biji jagung popcorn yang masih “siap letup” dan yang “sudah meletup”, dan tertimbun debu dalam sebuah gua di New Mexico.
Jagung itu diperkirakan sudah berusia 5600 tahun.

Bijian popcorn adalah sejenis bijian jagung yang berkulit keras, dan tidak enak dimakan bila diolah secara biasa dengan direbus atau dimasak, karena tidak ada rasa manisnya, dan kulitnya terlalu keras.

Variasi warna bijian sangat beragam, dari putih, kuning, jingga, merah, biru, hingga warna hitam
Juga bentuknya sangat bervariasi dan menarik, dan sering digunakan oleh orang Indian sebagai merjan atau hiasan dengan dirangkai.

Popcorn dapat ditemukan tumbuh liar, dan budidaya tanaman popcorn yang besar-besaran di AS dan beberapa negara Amerika Latin saat ini memang disebabkan oleh sifatnya yang satu ini, suka meletup.

Juga ada ditemukan varian jagung letup serupa di Sumatra, India dan Tiongkok.
Di Indonesia barangkali padanan makanan semacam tapi tak serupa adalah yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai “marning“, yaitu biji jagung yang digoreng hingga renyah, tapi tidak meletup.
Selain itu kita juga mengenal “berondong jagung” yaitu biji jagung digoreng yang juga merekah besar waktu dimasak, hanya saja tidak sebesar rekah popcorn Amerika.
Juga ada “belendung“, yaitu biji jagung yang merekah waktu direbus, padahal biji jagung itu belum terlalu tua.

Sifat khas popcorn seperti yang sudah disebut diatas, adalah bila bijian itu dipanaskan, tanpa ataupun dengan sedikit minyak / lemak, sampai suhu tertentu (sekitar 180~200 derajat Celsius) secara merata dan diaduk-aduk, akan meletup dan merekah daging dalamnya.
Sehingga terbentuk benda yang terbelah tidak beraturan, kadang seperti bunga, dan berwarna sangat putih , tidak perduli apa pun warna kulitnya.
Daging popcorn yang sudah diolah adalah empuk-renyah, sehingga sangat disukai oleh semua kalangan umur.

Masyarakat Eropa yang datang ke benua Amerika sangat tertarik, dan kemudian melestarikannya menjadi semacam ‘ makanan snack nasional ‘.

Pada 1980, popcorn dipublikasikan secara meluas di AS sebagai snack yang rendah kalori, bebas gula, dan kaya serat.
Padahal sebelumnya pernah digolongkan sebagai ‘ junk-food ‘ snack yang tidak bermutu gizi baik.
Popcorn yang masak-olah, rasanya adalah tawar/hambar, sehingga perlu dibubuhi bubuk gula, syrup ataupun garam.
Walaupun demikian berbagai kalangan memperingatkan akan bahan tambahan pada popcorn olahan agar tidak berlebih sehingga menurunkan tingkat kualitas popcorn secara keseluruhan.
Dalam perkembangannya, popcorn diolah dengan dibubuhi minyak/lemak butter dan garam. Butter salt popcorn ternyata sangat disukai dan omzet penjualannya meningkat terus dari tahun ke tahun.

Kandungan nutrisi yang tinggi dari popcorn bahkan telah membuat dokter di AS merekomendasikannya sebagai makanan kecil favorit, diatas yang lainnya.

Popcorn sungguh legendaris, tapi sekarang sudah tercemar, oleh diacetyl.

Apa komentar Anda ?

Tulis sebuah Komentar

*
*