Pride atau harga diri seringkali menjadi hal yang kebanyakan orang pertahankan dalam hubungannya dengan orang lain. Seringkali kita menjadi “sombong”, karena kita sedang membela harga diri kita.

Yang ingin saya sampaikan dalam blog kali ini mungkin bukan harga diri seperti yang kita bahas di atas, tetapi lebih kepada nilai diri kita (value). Untuk lebih memberikan pemahaman tentang ini, saya akan menyampaikan sepotong cerita singkat.Pada saat itu di daratan Cina ada seorang pendekar kungfu yang hebat. Dia adalah salah satu anggota perkumpulan kungfu yang masih yunior, namun dia memiliki kemampuan kungfu yang sedikit di bawah kemampuan ketua perkumpulan tersebut. Pada suatu kali, sang ketua menugaskan dia untuk menjalankan sebuah misi, bersama dengan beberapa orang anggota. Saat sedang beristirahat di sebuah kedai, dia melihat seorang peramal yang tampak sederhana, dan peramal tersebut tidak juga berusaha menarik perhatian pelanggan dengan teriakan-teriakan tertentu. Peramal itu hanya membawa sebuah spanduk yang cukup besar yang bertuliskan “Peramal nasib, harga meramal untuk pertama kali 5 sen dan untuk selanjutnya 100 sen”. Melihat spanduk itu, sang pendekar bingung. Mengapa harga ramalan bisa berbeda begitu jauh, padahal bahan dan kemampuan peramal itu juga tidak berbeda banyak untuk ramalan pertama dan kedua dan seterusnya. Didorong rasa penasaran, sang pendekar mendekati peramal dan bertanya mengapa harga bisa ditentukan seperti yang tertera pada spanduk itu. Sang peramal pun tersenyum memandang sang pendekar dan berkata, “yah, memang itu yang saya maksudkan. Pada saat pertama anda meminta jasa ramalan saya, saya beri harga sangat murah karena anda belum tahu bagaimana hasil dan kualitas ramalan saya. Setelah merasakan manfaat dari ramalan saya untuk anda yang pertama, anda akan mengetahui betapa berharganya ramalan saya, sehingga anda akan mencari saya untuk diramal kembali. Pada saat itulah saya akan menarik anda dengan harga yang pantas untuk kualitas ramalan saya.”

Dengan cerita singkat ini saya seringkali merenungkan bahwa kata-kata peramal itu sangat berbobot. Seringkali yang kebanyakan orang lakukan termasuk saya adalah menarik tinggi untuk hasil kerjanya mulai dari yang pertama kali dilakukan dengan harapan mumpung masih ada yang mau membayar tinggi hasil kerjanya, dan kemudian melupakan kualitas dari kerjanya tersebut.

Bagaimana pendapat anda?

Tulis sebuah Komentar

*
*